Viona, Setiap Tanggal 3 Oktober Aku Akan Selalu Mencintaimu, Anggap Saja Seperti Itu!

Hari ini adalah 3 Oktober. Tanggal ini selalu terasa asing bagiku, bukan karena aku lupa tanggal berapa sekarang, tetapi karena aku tidak pernah benar-benar mengerti mengapa hatiku terasa lebih berat setiap kali aku membuka kalender dan melihat angka itu. Dua puluh tahun berlalu, dan di setiap 3 Oktober, selalu ada satu wajah yang muncul di benakku. Wajah itu milik Viona, cinta yang tak pernah kuucapkan, cinta yang kuperam sejak masa SMA.

---

Dua puluh tahun yang lalu, Viona seperti hujan di tengah musim kemarau; segar, menyejukkan, dan tak terduga. Ia bukan perempuan paling cantik di sekolah, tapi di mataku, ia adalah segalanya. Senyum kecilnya yang selalu malu-malu, caranya menyelipkan rambut di belakang telinga setiap kali grogi, hingga tawa kecilnya yang seakan-akan menari di udara dan menembus langsung ke dalam hatiku.

Kami sering bersama, bukan sebagai pasangan, tetapi sebagai teman yang tak terpisahkan. Saat itu, kami berbagi mimpi-mimpi kecil. Aku masih ingat betul bagaimana kami duduk di tepi lapangan basket setiap sore, menunggu matahari tenggelam, berbicara tentang hal-hal bodoh—tentang masa depan, tentang film-film yang baru kami tonton, dan tentang apa yang akan terjadi setelah kelulusan. 

Tetapi tak pernah sekalipun aku berani berkata, "Aku mencintaimu." Bahkan ketika aku tahu bahwa perasaanku semakin mendalam, ada sesuatu yang menahanku—mungkin takut menghancurkan persahabatan kami, atau mungkin karena aku tidak cukup percaya diri.

Seiring waktu, aku menonton Viona jatuh cinta pada orang lain. Saat itu, rasanya seperti melihat lukisan indah yang perlahan-lahan memudar, warnanya hilang, hanya tersisa bayangan yang samar. Aku tetap diam, tersenyum di sampingnya, berpura-pura bahwa aku baik-baik saja. Namun, di dalam diriku, ada kekosongan yang tak bisa kugambarkan.

---

Waktu berjalan, kami lulus, dan masing-masing dari kami berjalan di jalur hidup yang berbeda. Aku tak pernah tahu bagaimana hidup Viona setelah itu, sampai suatu hari aku mendengar kabar bahwa dia menikah dengan seseorang yang tak pernah kukenal. Hari itu, langit terasa runtuh di atas kepalaku, meskipun aku tahu, dalam-dalam, itu bukanlah hal yang mengejutkan.

Sejak hari itu, aku tak pernah bertemu Viona lagi. Tidak di dunia nyata, setidaknya. Tapi di pikiranku, ia tak pernah pergi. Setiap malam, sebelum tidur, wajahnya selalu datang menghantui. Senyumnya, tawanya, suaranya—semua begitu jelas, seolah-olah ia masih berdiri di sampingku, meskipun kenyataannya jarak kami sudah ribuan kilometer, terbentang oleh waktu yang begitu panjang.

Setiap kali aku menutup mata, aku terperangkap di antara kenangan-kenangan itu. Kenangan yang seolah-olah hidup, merayap perlahan di dalam pikiranku. Viona adalah angin yang selalu berhembus di jiwaku, tak terlihat, tapi selalu ada.

---

Kini, dua puluh tahun kemudian, aku sudah menikah. Aku mencintai istriku, tentu saja. Kami memiliki kehidupan yang stabil, rumah yang nyaman, dan seorang anak perempuan yang cantik. Tapi, setiap kali aku melihat jam dinding berdetak menuju tanggal 3 Oktober, hatiku kembali ke masa lalu, kembali kepada seorang gadis yang tak pernah bisa kugapai.

Viona kini juga sudah berkeluarga, hidup bahagia dengan suaminya. Aku tahu ini. Aku tahu cinta ini sudah menjadi dosa, dosa yang harus kusimpan dalam-dalam, jauh dari siapa pun, bahkan dari diriku sendiri. Tetapi, meski aku berusaha sekeras mungkin, aku tak bisa menghapus perasaan itu. Perasaan yang tak pernah kusampaikan, dan mungkin tak akan pernah kutuntaskan.

Terkadang aku merasa cinta ini seperti luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Mungkin kulitnya sudah menutup, tapi setiap kali disentuh, rasa nyerinya kembali menganga, mengingatkan pada perih yang tak berkesudahan. Ada kalanya aku bertanya pada diriku sendiri, mengapa aku masih menyimpan perasaan ini? Apakah ini semacam kesalahan yang tak pernah kubenahi, atau mungkin karena cintaku pada Viona bukanlah tentang memiliki, melainkan tentang perasaan yang tak pernah berubah?

---

Di malam hari, ketika semua orang sudah tertidur, aku sering duduk sendirian di balkon, menatap bintang-bintang yang bersinar di atas sana. Di antara gemerlap cahaya itu, aku selalu mencari satu bintang yang paling terang, membayangkan bahwa Viona sedang menatap langit yang sama di tempat yang jauh. 

"Apakah kau masih mengingatku, Viona?" tanyaku dalam hati. "Apakah kenangan kita masih tersisa di sudut pikiranmu?"

Namun, tentu saja, pertanyaan itu hanya mengambang di udara, hilang begitu saja tanpa jawaban. Dan aku tak butuh jawaban. Aku sudah tahu jawabannya.

---

Cinta ini bukan cinta yang bisa dibanggakan. Bukan cinta yang bisa diumbar di depan publik. Ini adalah cinta yang hanya hidup di dalam hatiku, di dalam ruang kecil yang selalu kusembunyikan dari dunia luar. Setiap 3 Oktober, cinta ini bangkit, seolah-olah hari itu adalah miliknya, dan aku tidak bisa menghindarinya.

Mungkin, dalam hidup, kita hanya diberi satu cinta sejati. Satu orang yang, meskipun kita tak pernah bersatu dengannya, akan selalu tinggal di dalam hati kita. Viona adalah cintaku yang sejati. Aku tidak pernah mengatakan bahwa ini benar, tapi begitulah adanya. Aku tahu bahwa mencintai Viona seperti ini, ketika aku sudah berkeluarga dan dia juga, adalah salah. Tapi, terkadang cinta tidak mengikuti aturan. Terkadang cinta hanya ada, seperti air yang mengalir, dan kita tak bisa menghentikannya, meski kita tahu bahwa itu akan menenggelamkan kita suatu hari nanti.

Aku telah belajar untuk menerima bahwa cinta ini adalah bagian dari diriku. Aku tidak mencoba lagi untuk menghapusnya atau melawannya. Aku hanya membiarkannya hidup di dalam, seperti bunga yang layu di musim dingin, tetapi tak pernah mati.

Dan setiap 3 Oktober, aku akan selalu mencintaimu, Viona. Mungkin aku tidak pernah bisa memilikimu, tapi anggap saja seperti itu. Anggap saja pada hari ini, di dunia kecil yang hanya ada di dalam pikiranku, kita masih duduk bersama di tepi lapangan basket, menatap matahari terbenam, berbicara tentang mimpi-mimpi yang tak akan pernah menjadi kenyataan.

Posting Komentar

0 Komentar